Pendidikan dan
Latihan Jurnalisme warga
Pada hari Senin (18/11)
di hotel Abadi Suite Jambi berlangsung Diklat Jurnalisme Warga yang disponsori
oleh Makin Group, PPWI dan Mabes Polri. Acara pembukaan dilakukan pada hari
Senin pukul 19.00 Wib oleh Kapolda Jambi, dihadiri oleh Karo PPID Mabes Polri,
Pejabat Utama Polda Jambi, Direktur Makin Group serta beberapa wartawan senior
di propinsi Jambi.
Kegiatan Diklat
Jurnalistik warga ini merupakan angkatan kedua, setelah digelar di Banjarmasin Provinsi
Kalimantan Selatan. Pada angkatan kedua ini di ikuti oleh 30 peserta, terdiri
dari 25 personil Humas Polda dan Jajaran serta 5 peserta dari Makin Group.
Pada hari pertama
pelatihan, peserta dikenalkan tentang Citizen Jurnalisme oleh Wilson Lalengke selaku
ketua umum PPWI Pusat. Dalam uraiannya, Wilson menyampaikan bahwa masyarakat
atau warga memiliki peran yang cukup signifikan dalam mengisi kekosongan
informasi yang tidak sanggup dipenuhi oleh media Main Stream (arus utama).
Pesan yang dapat
diakomodir oleh media arus utama hanya sekitar 40 persen, selebihnya masyarakat
masih membutuhkan informasi faktual yang lebih lengkap dan akurat. Namun saat
ini, dengan perkembangan teknologi informasi, setiap warga dari berbagai strata
dan profesi dapat mengakses sekaligus berkontribusi dalam penyebaran informasi
di masyarakat.
Setelah pengenalan
Citizen Jurnalisme oleh ketua PPWI pusat, materi selanjutnya di lanjutkan oleh
Mung Pujanarko dengan menyampaikan teknik penulisan Berita dalam bentuk press
Release.
Prinsip penyusunan berita
dalam bentuk press release harus memenuhi unsur 5 W 1 H, meliputi unsur Who, What,
Where, When, Why dan How. Masing-masing unsur ini harus terpenuhi dalam setiap
materi press release sehingga pesan atau informasi yang ingin disampaikan dapat
di mengerti secara utuh dan mudah oleh pembaca.
Peserta pelatihan sangat
antusias dalam mengikuti sesi tersebut, mengingat pemahaman peserta sebelumnya
adalah pers merupakan dominasi oleh wartawan profesional. Namun ternyata, tidak
demikian. Setiap warga termasuk anggota Kepolisian maupun staf perusahaan seperti
Makin group juga memiliki kesempatan yang cukup bersama pewarta profesional dalam
menyebarkan informasi kepada khalayak (masyarakat umum).
Menginjak hari kedua, semangat
para peserta semakin meningkat. Pada hari selasa (19/11) para peserta
mendapatkan materi pelatihan berupa penulisan artikel Feature dan Profil. Mung
Pujanarko memancing peserta dengan memberikan gambar hutan TNKS untuk mengembangkan
cerita dalam bentuk tulisan. “satu foto dapat bercerita sampai seribu kata,”
ungkap Mung.
Peserta di pilih secara
acak untuk tampil dan bekerjasama dalam bercerita melalui tulisan, mereka
diajarkan menulis secara estafet sehingga menjadi satu kesatuan cerita yang
mengalir dan enak untuk dibaca.
Selesai menulis feature,
peserta dikenalkan dengan teknik menjawab pertanyaan dari wartawan (media). Beberapa
kasubag Humas dan Manager dari Makin Group disimulasikan sedang dalam wawancara
dan yang bertindak sebagai wartawan adalah Mung Pujarko. Peserta diajarkan
dalam menghadapi pewawancara/wartawan, bagaimana memberikan informasi yang urut
dan jelas, serta etika mengendalikan emosi maupun kecerdasan pikiran.
Teknik wawancara yang
disampaikan mung mengulas tentang jenis wawancara.
Dari sisi fungi, ada tiga
jenis wawancara. Pertama, wawancara berita faktual, wawancara berita pribadi
serta wawancara biografi. Berdasarkan situasi dan kondisi ada enam model
wawancara. Pertama, wawancara terjadwal atau teragenda, wawancara
insidental/spontanitas, wawancara bersama, wawancara dalam jumpa pers,
wawancara jalanan dan yang terakhir wawancara melalui telephone.
Belum puas dengan materi
penulisan feature, peserta kembali dibuat terpukau dengan materi Ferdyana.
Dalam teknik fotografi,
khususnya fotografi citizen Jurnalisme, peserta diajarkan dapat mengabadikan
setiap peristiwa menarik dengan peralatan seadanya. Namun, dengan teknik dan
keterampilan yang diajarkan, peserta mampu menciptakan karya fotografi yang memiliki
nilai berita. Selain teori, peserta diuji untuk melakukan praktek di lapangan. Peserta
yang dinilai memiliki hasil foto terbaik diberikan kesempatan untuk mempresentasikan
karyanya, dan ditanggapi oleh peserta lain.
Hari ketiga, suasana semakin
menarik, peserta semakin antusias mengikuti jalanya pelatihan. Imam Suwandi
memberikan materi tentang teknik Video Maker. Dengan durasi 1,5 sampai 2 menit,
video yang diambil dengan teknik yang benar dapat memberikan gambaran peristiwa
seutuhnya serta mengandung pesan informasi yang obyektif. Dalam teknik video
maker, ada dua trik yang dapat dipakai. Pertama adalah menyusun naskah terlebih
dahulu, kemudian pengambilan gambar
video disesuaikan. Sedangkan trik yang kedua adalah dengan mengambil gambar
video terlebih dahulu dan menyusun naskah kemudian.
Kelompok III, yang
dikoordinatori oleh AKP Harbunas dan 5 orang anggota, mengangkat tema baliho
liar yang merugikan pendapatan daerah. Terlihat dari hasil video tersebut,
ternyata pemasangan baliho liar selain menggangu keindahan kota, juga menggusur
space reklame komersil sehingga mengurangai pajak daerah dari sektor
advertising.
Teori penulisan opini
dikemas dengan sangat menarik oleh Danny Ph Siagian. Pada hari keempat
tersebut, peserta dibuat tertegun oleh nara sumber. Peserta dipacu untuk mampu
menyampaikan pendapat maupun gagasannya mengenai isu-isu terbaru yang
berkembang ditengah masyarakat. Setiap peserta diwajibkan membuat tulisan
opini, tema ditentukan oleh peserta sendiri.
Banyak peserta merasa
panas dingin, mereka berpacu dengan waktu yang dirasa sangat pendek sementara
tulisan opini harus mengandung unsur kejelasan judul Opini, alenia pembukaan harus
mengandung satu pokok pikiran utama. Selain itu, hubungan alenia dengan alenia juga
harus mengalir dan tidak jumping, serta penulisan alenia penjelas yang kuat.
Materi selanjutnya,
dibahas tentang kode etik Jurnalistik pewarta warga oleh Efri S. Bahri. Secara garis
besar, narasumber menyampaikan bahwa kode etik yang berlaku bagi pewarta warga
tidak jauh beda dengan kode etik pewarta profesional.
Selanjutnya, pada hari
terakhir pelatihan, peserta diajar oleh Supadiyanto. Wawasan peserta bertambah
dengan seluk- beluk media mainstrem serta cara menembus media umum tersebut
dengan karya tulisan.
Dari rautnya, peserta
terlihat murung. Pada sesi ini dirasa sangat singkat. Biasanya, waktu rehat
selalu dinikmati peserta dengan istirahat. Namun, antusias peserta mengalahkan
minatnya untuk istirahat.
Beberapa tugas yang
diberikan oleh Supadiyanto dapat diselesaikan dengan cukup sempurna. “Baru di Jambi
inilah peserta saya nilai berhasil, semua karyanya sangat luar biasa,” cetus
Supadiyanto.
Jum’at itu, pukul 15.00
acara pelatihan Jurnalisme warga di Abadi
Suite berakhir. Selain wawasan yang bertambah, peserta merasa puas dengan cara pembelajaran
oleh para narasumber. Dengan sangat mudah peserta menyerap pemahaman tentang
jurnalistik warga. Selain itu, peserta telah memiliki keterampilan khusus dalam
penulisan karya jurnalistik warga. Menurut Joko, salah seorang peserta, pelatihan
jurnalistik warga merupakan hal yang baru. Sangat potensi sekali untuk
dikembangkan di tengah masyarakat, sehingga akan terbentuk komunitas jurnalisme
warga yang lebih besar. Hal ini, lanjut Joko, akan sangat menguntungkan
masyarakat dalam memberikan perimbangan informasi yang tersaji di media arus
utama.
Waka Polda jambi, Kombes
Pol. Drs. Rahmad Fudail, MH menutup secara resmi acara pelatihan Jurnalisme
warga. Diharapkan, pelatihan – pelatihan serupa dapat dilaksanakan kembali. ***
Diklat Jurnalistik Jambi (Grup 3):
AKP Harbunas, IPTU Nuriswan, IPTU H Syamsudin, IPDA A Hermana, AIPTU Zainuri,
Tulik, Joko, Haris
Tidak ada komentar:
Posting Komentar