Jumat, 22 November 2013

Pendidikan  dan Latihan Jurnalisme warga

Pada hari Senin (18/11) di hotel Abadi Suite Jambi berlangsung Diklat Jurnalisme Warga yang disponsori oleh Makin Group, PPWI dan Mabes Polri. Acara pembukaan dilakukan pada hari Senin pukul 19.00 Wib oleh Kapolda Jambi, dihadiri oleh Karo PPID Mabes Polri, Pejabat Utama Polda Jambi, Direktur Makin Group serta beberapa wartawan senior di propinsi Jambi.

Kegiatan Diklat Jurnalistik warga ini merupakan angkatan kedua, setelah digelar di Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan. Pada angkatan kedua ini di ikuti oleh 30 peserta, terdiri dari 25 personil Humas Polda dan Jajaran serta 5 peserta dari Makin Group.

Pada hari pertama pelatihan, peserta dikenalkan tentang Citizen Jurnalisme oleh Wilson Lalengke selaku ketua umum PPWI Pusat. Dalam uraiannya, Wilson menyampaikan bahwa masyarakat atau warga memiliki peran yang cukup signifikan dalam mengisi kekosongan informasi yang tidak sanggup dipenuhi oleh media Main Stream (arus utama).

Pesan yang dapat diakomodir oleh media arus utama hanya sekitar 40 persen, selebihnya masyarakat masih membutuhkan informasi faktual yang lebih lengkap dan akurat. Namun saat ini, dengan perkembangan teknologi informasi, setiap warga dari berbagai strata dan profesi dapat mengakses sekaligus berkontribusi dalam penyebaran informasi di masyarakat.

Setelah pengenalan Citizen Jurnalisme oleh ketua PPWI pusat, materi selanjutnya di lanjutkan oleh Mung Pujanarko dengan menyampaikan teknik penulisan Berita dalam bentuk press Release.

Prinsip penyusunan berita dalam bentuk press release harus memenuhi unsur 5 W 1 H, meliputi unsur Who, What, Where, When, Why dan How. Masing-masing unsur ini harus terpenuhi dalam setiap materi press release sehingga pesan atau informasi yang ingin disampaikan dapat di mengerti secara utuh dan mudah oleh pembaca.

Peserta pelatihan sangat antusias dalam mengikuti sesi tersebut, mengingat pemahaman peserta sebelumnya adalah pers merupakan dominasi oleh wartawan profesional. Namun ternyata, tidak demikian. Setiap warga termasuk anggota Kepolisian maupun staf perusahaan seperti Makin group juga memiliki kesempatan yang cukup bersama pewarta profesional dalam menyebarkan informasi kepada khalayak (masyarakat umum).

Menginjak hari kedua, semangat para peserta semakin meningkat. Pada hari selasa (19/11) para peserta mendapatkan materi pelatihan berupa penulisan artikel Feature dan Profil. Mung Pujanarko memancing peserta dengan memberikan gambar hutan TNKS untuk mengembangkan cerita dalam bentuk tulisan. “satu foto dapat bercerita sampai seribu kata,” ungkap Mung.
Peserta di pilih secara acak untuk tampil dan bekerjasama dalam bercerita melalui tulisan, mereka diajarkan menulis secara estafet sehingga menjadi satu kesatuan cerita yang mengalir dan enak untuk dibaca.

Selesai menulis feature, peserta dikenalkan dengan teknik menjawab pertanyaan dari wartawan (media). Beberapa kasubag Humas dan Manager dari Makin Group disimulasikan sedang dalam wawancara dan yang bertindak sebagai wartawan adalah Mung Pujarko. Peserta diajarkan dalam menghadapi pewawancara/wartawan, bagaimana memberikan informasi yang urut dan jelas, serta etika mengendalikan emosi maupun kecerdasan pikiran.

Teknik wawancara yang disampaikan mung mengulas tentang jenis wawancara.
Dari sisi fungi, ada tiga jenis wawancara. Pertama, wawancara berita faktual, wawancara berita pribadi serta wawancara biografi. Berdasarkan situasi dan kondisi ada enam model wawancara. Pertama, wawancara terjadwal atau teragenda, wawancara insidental/spontanitas, wawancara bersama, wawancara dalam jumpa pers, wawancara jalanan dan yang terakhir wawancara melalui telephone.
Belum puas dengan materi penulisan feature, peserta kembali dibuat terpukau dengan materi Ferdyana.

Dalam teknik fotografi, khususnya fotografi citizen Jurnalisme, peserta diajarkan dapat mengabadikan setiap peristiwa menarik dengan peralatan seadanya. Namun, dengan teknik dan keterampilan yang diajarkan, peserta mampu menciptakan karya fotografi yang memiliki nilai berita. Selain teori, peserta diuji untuk melakukan praktek di lapangan. Peserta yang dinilai memiliki hasil foto terbaik diberikan kesempatan untuk mempresentasikan karyanya, dan ditanggapi oleh peserta lain.

Hari ketiga, suasana semakin menarik, peserta semakin antusias mengikuti jalanya pelatihan. Imam Suwandi memberikan materi tentang teknik Video Maker. Dengan durasi 1,5 sampai 2 menit, video yang diambil dengan teknik yang benar dapat memberikan gambaran peristiwa seutuhnya serta mengandung pesan informasi yang obyektif. Dalam teknik video maker, ada dua trik yang dapat dipakai. Pertama adalah menyusun naskah terlebih dahulu,  kemudian pengambilan gambar video disesuaikan. Sedangkan trik yang kedua adalah dengan mengambil gambar video terlebih dahulu dan menyusun naskah kemudian.
Kelompok III, yang dikoordinatori oleh AKP Harbunas dan 5 orang anggota, mengangkat tema baliho liar yang merugikan pendapatan daerah. Terlihat dari hasil video tersebut, ternyata pemasangan baliho liar selain menggangu keindahan kota, juga menggusur space reklame komersil sehingga mengurangai pajak daerah dari sektor advertising.

Teori penulisan opini dikemas dengan sangat menarik oleh Danny Ph Siagian. Pada hari keempat tersebut, peserta dibuat tertegun oleh nara sumber. Peserta dipacu untuk mampu menyampaikan pendapat maupun gagasannya mengenai isu-isu terbaru yang berkembang ditengah masyarakat. Setiap peserta diwajibkan membuat tulisan opini, tema ditentukan oleh peserta sendiri.
Banyak peserta merasa panas dingin, mereka berpacu dengan waktu yang dirasa sangat pendek sementara tulisan opini harus mengandung unsur kejelasan judul Opini, alenia pembukaan harus mengandung satu pokok pikiran utama. Selain itu, hubungan alenia dengan alenia juga harus mengalir dan tidak jumping, serta penulisan alenia penjelas yang kuat.

Materi selanjutnya, dibahas tentang kode etik Jurnalistik pewarta warga oleh Efri S. Bahri. Secara garis besar, narasumber menyampaikan bahwa kode etik yang berlaku bagi pewarta warga tidak jauh beda dengan kode etik pewarta profesional.

Selanjutnya, pada hari terakhir pelatihan, peserta diajar oleh Supadiyanto. Wawasan peserta bertambah dengan seluk- beluk media mainstrem serta cara menembus media umum tersebut dengan karya tulisan.
Dari rautnya, peserta terlihat murung. Pada sesi ini dirasa sangat singkat. Biasanya, waktu rehat selalu dinikmati peserta dengan istirahat. Namun, antusias peserta mengalahkan minatnya untuk istirahat.

Beberapa tugas yang diberikan oleh Supadiyanto dapat diselesaikan dengan cukup sempurna. “Baru di Jambi inilah peserta saya nilai berhasil, semua karyanya sangat luar biasa,” cetus Supadiyanto.

Jum’at itu, pukul 15.00 acara pelatihan  Jurnalisme warga di Abadi Suite berakhir. Selain wawasan yang bertambah, peserta merasa puas dengan cara pembelajaran oleh para narasumber. Dengan sangat mudah peserta menyerap pemahaman tentang jurnalistik warga. Selain itu, peserta telah memiliki keterampilan khusus dalam penulisan karya jurnalistik warga. Menurut Joko, salah seorang peserta, pelatihan jurnalistik warga merupakan hal yang baru. Sangat potensi sekali untuk dikembangkan di tengah masyarakat, sehingga akan terbentuk komunitas jurnalisme warga yang lebih besar. Hal ini, lanjut Joko, akan sangat menguntungkan masyarakat dalam memberikan perimbangan informasi yang tersaji di media arus utama.


Waka Polda jambi, Kombes Pol. Drs. Rahmad Fudail, MH menutup secara resmi acara pelatihan Jurnalisme warga. Diharapkan, pelatihan – pelatihan serupa dapat dilaksanakan kembali. ***


Diklat Jurnalistik Jambi (Grup 3):
AKP Harbunas, IPTU Nuriswan, IPTU H Syamsudin, IPDA A Hermana, AIPTU Zainuri, Tulik, Joko, Haris

Tidak ada komentar:

Posting Komentar